Kawasan Konservasi Warisan Dunia

Taman Nasional Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia karena statusnya yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi sejak masa kolonial pada 1937. Secara resmi, TNUK dideklarasikan sebagai taman nasional pada 1992. TN Ujung Kulon bersama Cagar alam Gunung Krakatau juga telah dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1992. 

TN Ujung Kulon memiliki luas kawasan sebesar 120,551 hektar yang terdiri dari ekosistem perairan laut, pesisir pantai, dan daratan. Keanekaragaman hayati TN Ujung Kulon cukup kaya. Penelitian menunjukkan bahwa paska meletusnya Gunung Krakatau ditahun 1883, kawasan Ujung Kulon mengalami dengan tumbuhnya berbagai variasi tumbuhan yang membuka ekosistem yang baru. Terletak di ujung pulau Jawa di Provinsi Banten, Ujung Kulon berbatasan langsung dengan Anak Gunung Krakatau yang masih aktif sehingga rentan akan bencana alam.

 

Habitat Spesies Kunci Endemik

Dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki, Ujung Kulon merupakan rumah bagi beberapa spesies kunci yaitu owa jawa (Hylobates moloch) dan spesies endemik, badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Ujung Kulon menjadi rumah terakhir bagi spesies badak jawa setelah populasinya dinyatakan punah di Vietnam pada 2011. Dengan populasi tunggal, badak jawa berpacu dengan waktu untuk keberlangsungan jenisnya. Ditambah lagi dengan berbagai ancaman yang diidentifikasi baik secara intrinsik (kawin sedarah, rentan genetik yang berpengaruh pada tingkat bertahan hidup) maupun ekstrinsik (ancaman perburuan, bencana alam, dan daya dukung habitat), Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk melakukan penyelamatan populasi badak jawa.

 

Intervensi ALeRT bersama Balai TN Ujung Kulon

Sejak melakukan PKS bersama Balai TN Ujung Kulon, ALeRT terus mendukung program konservasi badak jawa melalui program monitoring badak jawa melalui camera trap, pendataan dengan SMART Patrol, pengamanan kawasan melalui real time camera trap, operasionalisasi situation room, pelibatan masyarakat pesisir dalam pengelolaan kawasan pesisir, dan program propagasi badak jawa. Dukungan yang diberikan oleh ALeRT tidak hanya berupa dukungan teknis dan operasional, namun juga meliputi dukungan hibah peralatan pendukung dalam pelaksanaan kerja di lapangan.

 

Partisipasi Masyarakat Lokal

Sebagaimana situs kerja di Way Kambas dan Kalimantan Timur, Ujung Kulon juga dikelilingi oleh 19 desa penyangga yang masih menggantungkan penghidupannya pada Ujung Kulon, baik secara ekonomi bahkan budaya. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Balai TNUK dalam melakukan pengelolaan kawasan. Akan tetapi, bersama ALeRT, paradigma tantangan ini yang berusaha diubah menjadi peluang melalui berbagai bentuk pelibatan masyarakat dalam program konservasi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melibatkan masyarakat pesisir dalam menyusun perencanaan pengelolaan kawasan pesisir Ujung Kulon. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi menuju upaya konservasi yang inklusif di TN Ujung Kulon.

Rhino Monitoring Unit Walking Throught Ujung Kulon National Park. by Ridwan Setiawan